APA kita mendengarkan batin bercakap. Bisikan batin biasanya tidak pernah bohong. Makanya tak heran bila Rasulullah SAW ketika ditanya sesuatu hal yang masih meragukan, ia akan menjawab tanyalah pada hatimu, karena hati akan memberikan jawaban yang jujur. Itulah sejujur-jujurnya jawaban.
Demikian juga seperti yang disampaikan Robert Holden, Ph.D seorang pelatih kepribadian, menurutnya percakapan paling penting dalam hidup adalah percakapan dengan dengan diri sendiri. Dialog batin merupakan kunci penting menuju kesuksesan.
Batin memang telah Tuhan ciptakan sebagai mata hati. Mata yang mampu melihat sesuatu dengan jernih tanpa prasangka. Pernahkah kita menanyakan batin sebelum mengambil sebuah keputusan. Seberapa seringkah kita mendengarkan batin berbisik pada diri kita. Bila kita perhatikan dalam banyak hal ketika mengambil sebuah keputusan seringkali kita melupakan nasehat batin kita dan menggunakan akal.
Sekarang ini, kebanyakan dari kita lebih mengedepankan akal daripada hati. Dan meletakkan akal sebagai segala-galanya untuk membuat keputusan dan bertindak. Akal kita dipenuhi dengan hal-hal yang berkaitan dengan hitung-hitungan matematis, target-target dan pencapaian yang menurut ukuran akal. Batin diabaikan. ‘Kesuksesan’ semu menjadi tujuan. Hasilnya sebuah tindakan yang menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan akal.
Pola berpikir dan bertindak seperti inilah yang belakangan ini menjangkiti banyak kalangan. Dari mulai rakyat hingga penguasa. Mengerjakan sesuatu dimulai dengan target akal dan keinginan instans. Bahwa dirinya harus sukses dengan memenangi sebuah persaingan yang mungkin akan merugikan atau mengorbankan orang lain. Sering menganggap teman sebagai pesaing bukan sebagai mitra yang bisa diajak seiring sejalan.
Tak mengherankan bila kita sering melihat atau membaca di media tentang konflik yang terjadi di internal partai ribut gara-gara hanya urusan sebuah nomor urut. Bagaimana mau memperjuangkan suara rakyat bila hati dan akal kita dikotori dengan sifat iri dan dengki terhadap teman sendiri untuk urusan yang sepele, apalagi terhadap orang lain. Atau yang baru-baru ini terjadi, adanya rebutan pengakuan antar petinggi negeri yang masing-masing saling berebut klaim adanya mediasi perundingan perdamaian konflik di negara tetangga. Padahal rakyat tidak butuh pengakuan, yang dibutuhkan sebuah jalan keluar dari segala permasalahan bangsa. Pribadi yang sering menggunakan batinnya dalam berbuat, pasti akan meletakkan kata pengakuan pada nomor sekian dalam kamus hidupnya.
Di sisa-sisa hari pada bulan yang penuh berkah ini, sering-seringlah kita mengajak batin ini bercakap. Tanyakan pada hati, apakah tindakan dan perbuatan yang kita lakukan selama ini sudah tepat dan membawa kebahagiaan buat kita. Bisa jadi hanya karena mengejar kesuksesan semu kebahagiaan yang kita idamkan hilang. Padahal hidup mendambakan sebuah kebahagiaan. Dan kebahagiaan itu adanya di batin ini. Dengarkan batin anda bicara. Disana ada kejernihan dan Insya Allah kebenaran.
